Sejak 2023, Manka memperkuat pengelolaan kawasan konservasi dan hutan berbasis masyarakat untuk mendukung perlindungan keanekaragaman hayati. Bersama Perkumpulan Elang, Manka mendorong perhutanan sosial di Kabupaten Siak, Riau, pada lanskap Semenanjung Kampar–Kerumutan dengan potensi pengelolaan seluas 48.253,82 hektare. Empat desa prioritas, yaitu Teluk Lanus, Penyengat, Dayun, dan Sungai Rawa, dipilih karena masih memiliki tutupan hutan yang luas dan peluang pengelolaan oleh masyarakat. Skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) menjadi pilihan utama masyarakat karena fleksibel dan berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal. Untuk memperkuat implementasi di tingkat kebijakan, Manka menyusun publikasi ilmiah berbasis bukti sebagai rujukan strategis bagi pengembangan kebijakan perhutanan sosial yang lebih efektif.
Pertengahan tahun 2024, Manka menjadi bagian dari Koalisi Ekonomi Berkelanjutan Kalimantan Barat bersama Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), HuMa, dan Madani Berkelanjutan. Kami berperan dalam mendorong penerapan ekonomi restoratif di Kalimantan Barat dengan melakukan dua kegiatan utama, 1) Kajian Rimba dan Gupung sebagai dasar pengembangan ekonomi berbasis masyarakat berkelanjutan; 2) Studi Potensi Ekonomi Tengkawang.

Akhir tahun 2024, Manka bekerja sama dengan Balai TNBBBR (Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya) untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan database keanekaragaman hayati dan publikasi ilmiah sebagai upaya penguatan fungsi kawasan TNBBBR. Area kerja sama di Resor Belaban, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi dengan luas wilayah ±50.000 Ha.
Ruang lingkup kerja sama mencakup tiga fokus utama. Pertama, penguatan kapasitas kelembagaan, yang meliputi penyusunan baseline data, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengelolaan informasi keanekaragaman hayati, peningkatan publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional,

Kedua, dukungan penguatan fungsi untuk riset jangka panjang melalui kajian fenologi, pemantauan satwa liar dengan camera trap, dan studi bioprospeksi. Ketiga, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan untuk mendukung peningkatan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Pada tahun 2025, Manka bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Burungnesia menggelar “Nusantara Bird Race and Photography Competition” yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik terhadap keanekaragaman hayati IKN, sekaligus membangun komunitas pengamat satwa liar lokal. Kompetisi ini menarik antusiasme luar biasa dengan lebih dari 80 peserta terdaftar dari berbagai daerah.

Inisiatif ini sejalan dengan visi besar IKN sebagai “Forest City”, kota hutan masa depan yang menargetkan 65% wilayahnya dilindungi . Melalui pendekatan citizen science atau ilmu pengetahuan warga, Manka mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekologi dan menghidupkan budaya peduli lingkungan di ibu kota baru Indonesia.